Fenomena 'quiet firing' semakin mencuat sebagai praktik baru dalam dunia kerja, di mana perusahaan secara perlahan mengurangi keterlibatan karyawan tanpa pemecatan resmi.
Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan
Praktik ini mengakibatkan berbagai dampak psikologis bagi karyawan yang mengalami, serta menimbulkan pertanyaan serius mengenai etika dan tanggung jawab perusahaan.
Definisi dan Ciri-ciri Quiet Firing
'Quiet firing' merujuk pada praktik di mana perusahaan mengurangi tanggung jawab atau eksposur karyawan secara bertahap.
Ciri-ciri dari fenomena ini mencakup menurunnya komunikasi antara atasan dan bawahan, berkurangnya proyek atau tugas penting, serta pemotongan akses terhadap sumber daya yang biasanya digunakan oleh karyawan.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Dampak Terhadap Karyawan
Dari segi psikologis, karyawan yang mengalami quiet firing sering kali merasakan tekanan, kecemasan, dan ketidakpastian mengenai masa depan karier mereka.
Sebuah studi menunjukkan bahwa 55% individu yang terpengaruh melaporkan perasaan kurang dihargai, sedangkan 40% merasa tidak memiliki lagi tujuan dalam pekerjaan mereka.
Pertimbangan Etis bagi Perusahaan
Praktik quiet firing menimbulkan perdebatan penting tentang etika perusahaan dalam memperlakukan karyawan.
Para ahli menekankan bahwa transparansi dan komunikasi yang jelas tentang kinerja karyawan seharusnya menjadi fokus utama manajemen, agar situasi tidak menyenangkan ini dapat dihindari.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: