Fenomena ghosting yang lazim terjadi dalam konteks hubungan personal kini merambah ke dunia kerja, menimbulkan ketidakpastian bagi kedua belah pihak yang terlibat. Praktik ini menciptakan tantangan baru bagi kandidat pencari kerja dan perusahaan, di mana kurangnya komunikasi dapat memengaruhi reputasi dan kepercayaan diri.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Ghosting di dunia kerja umumnya ditandai dengan tidak adanya umpan balik setelah proses wawancara, maupun tidak adanya respons dari kandidat terhadap tawaran yang diterima. Hal ini menunjukkan perlunya upaya untuk memperbaiki komunikasi dalam konteks profesional.
Pengertian dan Konteks Ghosting dalam Dunia Kerja
Ghosting adalah istilah yang mengacu pada tindakan menghilang tanpa penjelasan dalam hubungan interpersonal. Dalam konteks dunia kerja, ghosting terjadi ketika perusahaan atau kandidat tidak memberikan komunikasi satu sama lain setelah proses rekrutmen.
Fenomena ini menghasilkan ketidakpastian bagi kandidat yang tidak mendapat tanggapan mengenai aplikasi mereka, dan bagi perusahaan yang tidak mengetahui keputusan dari kandidat yang telah diwawancarai. Hal ini menciptakan kekhawatiran di kedua belah pihak.
Sejalan dengan tren di negara lain, ghosting di Indonesia juga dipicu oleh dinamika pasar kerja yang berubah. Tuntutan tinggi terhadap kualitas kandidat membuat perusahaan menghadapi banyak pelamar, namun banyak di antaranya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dampak Ghosting terhadap Kandidat dan Perusahaan
Bagi kandidat, ketiadaan respon dari perusahaan dapat merusak kepercayaan diri dan meningkatkan kecemasan. Kandidat merasa bahwa upaya mereka dalam melamar pekerjaan tampak sia-sia tanpa umpan balik yang jelas.
Di sisi lain, perusahaan yang melakukan ghosting terhadap kandidat berisiko merusak reputasi mereka. Calon pekerja yang berkualitas dapat kehilangan minat untuk melamar di perusahaan yang tidak menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan usaha pelamar.
Konteks ini menunjukkan bahwa ghosting mencerminkan masalah yang lebih luas dalam komunikasi dan hubungan kerja, di mana banyak perusahaan tidak memiliki mekanisme untuk memberikan umpan balik, sementara kandidat sering kali tidak berkomunikasi saat menolak tawaran.
Solusi dan Pendekatan untuk Mengurangi Ghosting
Untuk mengurangi praktik ghosting, perusahaan perlu membangun komunikasi yang lebih baik dengan pelamar. Menetapkan standar untuk memberikan umpan balik kepada kandidat, meskipun mereka tidak terpilih, dapat membantu menciptakan kejelasan.
Kandidat juga sebaiknya memberikan informasi yang jelas mengenai keputusan mereka setelah menerima tawaran, guna memperbaiki keterbukaan komunikasi. Kesesuaian antara harapan dan komunikasi yang lebih terbuka menjadi sangat penting.
Pelatihan komunikasi yang baik bagi tim SDM di perusahaan dapat membantu mengurangi fenomena ini. Dengan pendekatan yang lebih profesional dan empatik, diharapkan hubungan kerja dapat berkembang menjadi lebih transparan dan saling menghargai.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: