Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengundang Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Jawa Barat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil setelah kasus keracunan massal yang melanda beberapa wilayah di Jawa Barat.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kasus tersebut menjadi sorotan, khususnya di Kabupaten Garut dan Bandung Barat, di mana sejumlah siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut. Dedi menegaskan bahwa evaluasi ini perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Latar Belakang Kasus Keracunan
Kasus keracunan massal terjadi di Kecamatan Kadungora dan Cipongkor, Jawa Barat, di mana sebanyak 657 orang di Kadungora melaporkan mengalami gejala keracunan. Dari jumlah tersebut, 19 orang memerlukan perawatan, namun semua sudah pulih.
Sementara itu, di Cipongkor, lebih dari 300 siswa terdampak akibat konsumsi makanan dari program MBG pada 22 September 2025. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa masalah ini diduga disebabkan oleh proses penyajian makanan yang tidak tepat waktu.
Menurut laporan, makanan yang disiapkan pada malam hari didistribusikan kepada siswa pada siang hari, menyebabkan risiko keracunan yang tinggi. Hal ini dilihat sebagai kelalaian dalam pengelolaan program MBG dan memerlukan perhatian serius.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi
Rencana Evaluasi oleh BGN
Dedi Mulyadi menyatakan, "Saya pekan depan, ya kita gini, mau mengundang Kepala MBG yang membidangi wilayah Jawa Barat untuk dilakukan evaluasi." Dia menekankan pentingnya evaluasi secara paripurna dan terbuka untuk mencari solusi dari masalah yang ada.
Evaluasi ini tidak hanya melibatkan BGN, tetapi juga pihak penyelenggara untuk membahas kejelasan dan prosedur dalam penyelenggaraan program ini. Dedi menjelaskan lebih lanjut, "Ini harus menjadi bahan evaluasi agar mereka yang memiliki tugas atau dapat order untuk melakukan upaya menyiapkan makanan MBG bagi siswa harus bisa memperhitungkan antara jam dimasak dan jam dimakan."
Dedi juga menyebutkan pentingnya seksama dalam pengelolaan program agar kejadian keracunan tidak terulang, dengan meminta klarifikasi dari penyelenggara terkait prosedur pembuatan dan distribusi makanan.
Tindakan Lanjutan dan Penghentian Program
Badan Gizi Nasional telah menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis untuk menjalani evaluasi secara menyeluruh. Tindakan ini diharapkan dapat memperbaiki sistem dan cara penyelenggaraan agar lebih aman bagi anak-anak.
Saat ditanya mengenai kemungkinan tindakan pidana, Dedi Mulyadi menyatakan, "Nanti saya tanya juga pada penyelenggara apakah akan diteruskan atau harus dievaluasi." Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah provinsi untuk menangani isu ini secara tepat.
Kasus keracunan ini menggugah perhatian banyak pihak dan menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas makanan yang diberikan dalam program MBG. Diperlukan langkah strategis untuk meminimalkan risiko di kemudian hari bagi siswa dan masyarakat luas.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: