Selasa, 06 MEI 2025 • 15:25 WIB

Siswi Jabar Akui Kecanduan Miras ke Dedi Mulyadi, Barak Militer Jadi Solusi?

Author

Siswa Nakal di Barak Militer Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

KAMI INDONESIA – Kecanduan minuman keras atau miras di kalangan para remaja semakin menjadi perhatian serius. Banyak dari mereka mengaku kesulitan untuk menjauhi kebiasaan buruk ini.

Fenomena seorang siswi mengadu kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah kecanduan miras dalam pergaulan tekanan teman sebaya, dan lingkungan sangat mempengaruhi keputusan para pemuda.

Kesadaran akan bahaya miras di kalangan remaja masih rendah. Beberapa siswi melaporkan bahwa mereka terjerumus dalam dunia miras sebagai cara untuk bersenang-senang atau mengatasi stres.

Namun, tidak sedikit dari mereka yang tersadar bahwa hal ini merugikan diri sendiri dan mengganggu masa depan mereka.

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengusulkan pendekatan yang berbeda dalam mengatasi masalah remaja yang terjerumus ke dalam kecanduan miras. Salah satu solusinya adalah mengirimkan anak-anak remaja yang bermasalah, termasuk mereka yang kecanduan miras, ke barak militer.

Program kedisiplinan yang ditawarkan di sana diharapkan dapat memberikan perubahan yang signifikan kepada mereka. Dalam pandangannya, barak militer dapat menjadi tempat untuk membangun karakter dan kedisiplinan.

Remaja yang masuk ke dalam program ini diharapkan dapat belajar nilai-nilai positif seperti tanggung jawab, kerja sama, dan kedisiplinan, yang sangat penting untuk masa depan mereka.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan rencana Dedi Mulyadi ini. Beberapa tokoh hak asasi manusia menilai bahwa mengirimkan anak-anak bermasalah ke barak militer bukanlah solusi yang tepat.

Mereka berargumen bahwa pendekatan ini tidak sesuai dengan prinsip perlindungan anak dan bisa berpotensi memperburuk masalah yang ada.

Selain itu, ada kekhawatiran mengenai lingkungan barak militer yang dianggap keras dan bisa mengintimidasi bagi remaja yang sedang berupaya memperbaiki diri.

Dengan kondisi yang demikian, ada risiko bahwa remaja yang dikirim ke barak malah jadi trauma dan tidak mendapatkan manfaat yang diharapkan.

Alternatif Pendekatan untuk Mengatasi Kecanduan

Sebagai alternatif, masyarakat dan pemerintah bisa lebih berfokus pada program pendidikan dan konseling yang berbasis kepada kebutuhan mental dan emosional remaja.

Penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan aman bagi remaja untuk berbagi masalah mereka, tanpa merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi tertentu.

Berbagai program rehabilitasi yang berbasis pada pemahaman psikologis dan edukasi dapat menjadi jalan keluar yang lebih manusiawi. Melalui pendekatan ini, remaja tidak hanya disuruh untuk mematuhi aturan tetapi juga diberi penjelasan dan pemahaman mengenai dampak negatif dari kecanduan miras.

Dampak Sosial dari Kecanduan Miras

Kecanduan miras tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Siswa yang terlibat dalam kecanduan ini cenderung mengalami penurunan prestasi akademis, serta memperburuk hubungan mereka dengan teman dan keluarga.

Ini adalah masalah yang perlu disikapi dengan serius oleh semua pihak. Apalagi dalam konteks Indonesia, di mana budaya minum masih cukup tinggi, ada tantangan lebih dalam menanggulangi masalah ini.

Komunitas, keluarga, dan sekolah perlu bersinergi untuk memberikan dukungan dan kesempatan bagi remaja untuk mendapati alternatif lain seperti aktivitas positif yang lebih bermanfaat.

Sementara Dedi Mulyadi mengusulkan barak militer sebagai solusi, perlu dipertimbangkan juga keberlanjutan program yang akan dijalani para remaja setelah keluar dari barak. Apakah mereka akan mendapatkan dukungan berkelanjutan, atau hanya akan dikembalikan ke lingkungan yang sama tanpa bantuan?

Akhirnya, solusi untuk kecanduan miras harus melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan permasalahan mendasar yang dihadapi remaja saat ini. Hanya dengan cara itu, masyarakat dapat berharap untuk mengurangi permasalahan kecanduan miras di kalangan generasi muda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU