Audy Bella Ungkap Alasan Angkat Urban Legend Lastri ke Layar Lebar, Jadi Film Terakhir Gary Iskak
Film horor Lastri: Arwah Kembang Desa bukan sekadar proyek layar lebar bagi Audy Bella. Di balik kisah mistis yang diangkat dari urban legend, tersimpan cerita emosional yang membuat film ini memiliki arti khusus bagi sang produser eksekutif.
Selain terlibat sebagai pemain, Audy Bella juga menjadi sosok di balik produksi film yang akan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026 tersebut.
Menariknya, film ini juga menjadi karya terakhir mendiang Gary Iskak sebelum berpulang.
Berawal dari Kejar Deadline
Audy mengaku proses lahirnya film Lastri: Arwah Kembang Desa tidak berjalan seperti yang dibayangkan banyak orang.
Saat itu, tim produksi harus bergerak cepat menentukan proyek yang akan digarap.
Di tengah keterbatasan waktu, mereka akhirnya memilih mengangkat kisah urban legend Lastri yang sudah cukup dikenal masyarakat.
"Kalau film ini sebenarnya karena waktu itu kami kejar waktu. Jadi kami diskusi, mau bikin film apa. Akhirnya ketemu cerita Lastri dan kami merasa cerita ini menarik untuk diangkat," ujar Audy Bella.
Meski terinspirasi dari legenda yang beredar di masyarakat, Audy mengaku tim kreatif melakukan sejumlah penyesuaian agar cerita lebih cocok untuk diangkat ke layar lebar.
"Kami memang terinspirasi dari urban legend Lastri, tapi ada beberapa bagian yang dimodifikasi untuk kebutuhan film," jelasnya.
Tak Muluk-muluk Soal Target
Berbeda dengan banyak produser yang memasang target tinggi untuk filmnya, Audy mengaku memiliki harapan yang cukup sederhana.
Baginya, yang terpenting adalah film ini bisa dinikmati penonton dan memberikan kenangan indah bagi semua orang yang terlibat.
"Kalau ekspektasi sih aku enggak terlalu muluk-muluk. Yang penting semua bisa happy dengan film ini," katanya.
Namun di balik harapan sederhana itu, ada satu alasan yang membuat film ini terasa sangat emosional bagi Audy.
Jadi Film Terakhir Gary Iskak
Audy mengungkapkan bahwa Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi film terakhir yang dibintangi Gary Iskak.
Hal itu membuat film ini memiliki nilai yang jauh lebih personal dibanding proyek-proyek lainnya.
Menurut Audy, Gary sebenarnya memiliki keinginan besar untuk kembali aktif berkarya dan membuat film bersama.
"Ini juga film terakhir almarhum Babang (Gary Iskak). Jadi saya berharap orang bisa melihat karya terakhir beliau seperti apa," ujarnya.
Bahkan, ide untuk membuat film bersama sempat beberapa kali dibicarakan oleh Gary sebelum produksi dimulai.
"'Yaudah deh Bel, bikin deh Bel,' itu salah satu yang saya ingat dari beliau. Bahkan ada beberapa ide yang juga datang dari almarhum," kenang Audy.
Penyesalan yang Masih Tersisa
Meski film akhirnya berhasil diselesaikan, ada satu hal yang hingga kini masih menjadi penyesalan bagi Audy.
Gary Iskak tidak sempat menyaksikan hasil akhir film yang telah ia bintangi.
Saat proses produksi rampung, film masih memasuki tahap pascaproduksi dan editing.
"Cuma memang penyesalannya, beliau tidak sempat menonton hasil filmnya. Saat itu masih proses editing," kata Audy.
Tak lama setelah proses tersebut berjalan, Gary Iskak meninggal dunia dan meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan di dunia hiburan.
Tetap Profesional Meski Sakit
Audy juga mengenang perjuangan Gary selama proses syuting berlangsung.
Saat itu kondisi kesehatan Gary memang tidak sepenuhnya prima. Bahkan beberapa tawaran pekerjaan lain disebut tidak bisa ia ambil karena harus fokus pada pemulihan.
Namun untuk proyek Lastri: Arwah Kembang Desa, Audy berusaha menyesuaikan jadwal dan kebutuhan produksi dengan kondisi Gary.
"Beliau memang sudah lama enggak syuting karena sedang sakit. Tapi karena saya yang bikin film ini, jadi saya bisa menyesuaikan dengan kondisi beliau," ungkapnya.
Meski tengah berjuang dengan kondisi kesehatan, Gary tetap menunjukkan profesionalismenya sebagai aktor.
"Tapi beliau tetap profesional. Walaupun lagi sakit waktu itu, dia tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik," lanjut Audy.
Sebuah Film, Sebuah Kenangan
Bagi Audy Bella, Lastri: Arwah Kembang Desa bukan hanya film horor tentang balas dendam arwah seorang perempuan yang menjadi korban fitnah.
Film ini juga menjadi simbol persahabatan, perjuangan, dan penghormatan terakhir untuk Gary Iskak yang turut memberikan warna dalam proses pembuatannya.
Saat film ini tayang di bioskop pada 16 Juli 2026 mendatang, Audy berharap penonton tidak hanya menikmati kisah horornya, tetapi juga mengenang sosok Gary Iskak melalui penampilan terakhirnya di layar lebar.
"Yang paling membuat saya bahagia adalah akhirnya film ini bisa terwujud. Dan semoga karya terakhir Babang Gary bisa dikenang oleh banyak orang," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: