KAMI INDONESIA – Istilah ‘toxic positivity’ kini sering dibicarakan dalam konteks kesehatan mental dan interaksi sosial. Konsep ini merujuk pada upaya terus-menerus mendorong individu untuk bersikap positif, meskipun dalam situasi yang menantang.
Meskipun memiliki niat baik, sikap ini dapat menimbulkan efek negatif dalam relasi interpersonal. Dengan terus-menerus mendorong orang lain untuk berpikir positif, individu berisiko merasa tidak didengarkan dan terasing ketika memerlukan dukungan emosional yang lebih nyata.
Toxic positivity adalah pandangan yang mengharuskan individu untuk selalu bersikap positif, sementara emosi negatif diabaikan. Istilah ini sering muncul ketika seseorang menghadapi kesulitan besar, seperti kehilangan atau tantangan hidup lainnya.
Sering kali, ungkapan seperti ‘Tetap positif!’ atau ‘Segala hal akan baik-baik saja!’ terlihat menenangkan. Namun, ungkapan semacam ini dapat menghalangi individu dari mengakui dan merasakan emosi mereka, menciptakan ruang yang sempit untuk perasaan yang sah.
Dalam konteks seperti ini, individu mungkin merasa terpaksa untuk menyembunyikan perasaan negatif mereka, berpotensi menghasilkan kehampaan emosional yang memperburuk hubungan sosial.
Sikap toxic positivity dapat menciptakan harapan yang tidak realistis bagi individu. Ketika individu didorong untuk selalu berpikir positif, mereka bisa merasa bersalah atau malu atas perasaan negatif yang alami, yang pada akhirnya menyebabkan ketegangan emosional.
Dalam hubungan interpersonal, hal ini dapat mengakibatkan kesalahpahaman. Sebagai contoh, salah satu pasangan mungkin merasa bahwa yang lainnya tidak peduli terhadap kesedihan atau keluhan mereka, sehingga mengikis kepercayaan dan keterbukaan.
Fenomena ini tidak terbatas pada hubungan romantis saja, melainkan juga terjadi dalam ikatan pertemanan dan keluarga. Perasaan tidak mampu mengungkapkan emosi dapat mengarah pada perasaan kesepian dan keterasingan.
Menghadapi masalah toxic positivity dimulai dengan pengakuan bahwa semua emosi memiliki nilai. Menciptakan lingkungan yang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa risiko penghakiman menjadi langkah penting.
Penting juga untuk mendengarkan dengan empati dalam konteks hubungan. Daripada memberikan nasihat dengan nada positif, menawarkan dukungan yang lebih alami dan pendidikan terhadap perasaan orang lain lebih disarankan.
Sebagai tambahan, edukasi terkait kesehatan mental menjadi kunci dalam memahami nilai dari komunikasi yang terbuka dan jujur. Membangun budaya yang menghargai semua jenis emosi dapat membantu memperkuat hubungan antarindividu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: