Sabtu, 13 DESEMBER 2025 • 11:32 WIB

Persaingan Teknologi: Elon Musk dan Jeff Bezos dalam Pembangunan Pusat Data AI di Luar Angkasa

Author

Persaingan Teknologi: Elon Musk dan Jeff Bezos dalam Pembangunan Pusat Data AI di Luar Angkasa

Dua miliuner ternama, Elon Musk dan Jeff Bezos, saat ini bersaing dalam upaya mendirikan pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN

Inisiatif ini mencakup pengembangan teknologi yang dilakukan oleh Bezos melalui perusahaannya, Blue Origin, dan eksplorasi oleh SpaceX milik Musk.

Pengembangan Pusat Data oleh Blue Origin

Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, telah mengembangkan teknologi untuk pusat data AI di luar angkasa selama lebih dari satu tahun. Proyek ini bertujuan untuk pemanfaatan ruang angkasa sebagai solusi untuk kebutuhan komputasi berdaya tinggi.

Menurut laporan dari The Wall Street Journal, Bezos memperkirakan bahwa pusat data dengan kapasitas gigawatt dapat dibangun dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Ia berpendapat bahwa dengan memanfaatkan sumber energi surya yang tanpa henti, operasional pusat data di luar angkasa dapat lebih efisien.

Pengembangan ini menandakan langkah baru dalam inovasi teknologi yang berfokus pada pengurangan biaya operasional serta peningkatan efisiensi.

Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan

Inovasi SpaceX dengan Teknologi Starlink

Di sisi lain, SpaceX berencana meningkatkan kapabilitas satelit Starlink dengan kemampuan komputasi AI. Laporan dari New York Post menunjukkan bahwa peningkatan ini dilakukan bersamaan dengan valuasi perusahaan yang mencapai US$800 miliar.

Elon Musk menanggapi isu mengenai pencarian pendanaan besar dengan menyatakan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Perusahaan tetap berkomitmen pada pengembangan teknologi yang mendukung inisiatif pusat data ini.

Strategi SpaceX tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya luar angkasa yang lebih efektif dan efisien.

Tantangan dan Potensi Pusat Data di Ruang Angkasa

Tingginya permintaan akan listrik dan sumber daya untuk mendinginkan server di Bumi menjadi perhatian terhadap pembangunan pusat data orbital. Informasi terbaru menunjukkan bahwa Google juga berencana membangun pusat data di luar angkasa pada awal tahun 2027.

Google bercita-cita untuk meluncurkan sekitar 80 satelit bertenaga surya untuk memenuhi permintaan AI yang semakin meningkat, memanfaatkan teknologi peluncuran dan pemrosesan yang lebih murah.

Namun, tantangan seperti emisi karbon dari peluncuran roket dan dampak pada pengamatan astronomi tetap menjadi perhatian. Konsep inovatif seperti proyek Suncatcher kini berupaya mengirimkan hasil pemrosesan data kembali ke Bumi melalui tautan optik.

Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU