Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan ketidakpuasan terhadap perbandingan sistem kecerdasan buatan antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Kementerian Kesehatan.
Baca juga: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Membangun Hubungan yang Sehat
Hal ini disampaikan dalam peresmian alat pemindai terkini dan sistem Trade AI yang diyakini dapat meningkatkan akurasi hingga 90 persen.
Inovasi Alat Pemindai dan Sistem AI Bea Cukai
Dalam acara peresmian yang berlangsung di Terminal 3 dan Terminal Mustika Alam Sari, Jakarta Utara, Purbaya Yudhi Sadewa memperkenalkan alat pemindai peti kemas (X-Ray) dan sistem Self Service Report Mobile (SSR-Mobile) berserta Trade AI.
Purbaya menyatakan bahwa teknologi ini memiliki tingkat akurasi tinggi mencapai 90 persen, meskipun ia mengakui bahwa tidak mungkin untuk mencapai persentase sempurna.
Ia menjelaskan, 'Sistem AI ini dirancang untuk terus belajar dari hasil yang ada, dengan memperbaiki data berdasarkan masukan tambahan yang diperoleh di lapangan.'
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Optimisme Terhadap Penggunaan Teknologi
Dalam keterangan persnya, Purbaya menekankan pemanfaatan alat pemindai dan teknologi AI yang dapat memperkuat transparansi dan keamanan arus barang.
Ia optimis bahwa Trade AI dapat membandingkan harga barang ekspor dan impor dengan harga tertera di marketplace.
Purbaya menegaskan, 'Peluangnya untuk setiap pelabuhan yang memakai sistem ini, peluangnya akan semakin kecil impor-ekspor ilegal lagi,' mencerminkan harapan dalam memberantas kegiatan ilegal di pelabuhan.
Investasi untuk Pengembangan Teknologi
Purbaya melaporkan bahwa uji coba alat dan sistem baru ini telah berhasil dilakukan terhadap 145 pemberitahuan impor barang (PIB), mencegah kebocoran nilai mencapai Rp1,2 miliar.
Ia menyatakan bahwa untuk pengembangan lebih lanjut di seluruh Indonesia, kementerian memerlukan investasi tambahan sekitar Rp45 miliar.
Jumlah investasi ini menandakan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pengembangan teknologi yang dapat memperkuat operasi di sektor kepabeanan.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: