Ramadan, bulan suci bagi umat Islam, diatur berdasarkan kalender lunar yang memiliki perbedaan mendasar dengan kalender matahari. Pemahaman tentang perbedaan ini penting untuk menghargai siklus beribadah selama bulan Ramadan.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Dalam artikel ini, akan dibahas pengertian dan fungsi kedua kalender, serta dampak pergeseran waktu pelaksanaan Ramadan yang diakibatkan oleh penggunaan kalender lunar.
Apa itu Kalender Lunar?
Kalender lunar adalah sistem penanggalan yang menghitung waktu berdasarkan fase bulan. Dalam sistem ini, satu bulan dimulai saat bulan baru muncul dan berakhir saat bulan tersebut menghilang.
Di banyak tradisi, termasuk di Indonesia, kalender lunar juga dikenal dengan istilah bulan Hijriah, yang digunakan oleh umat Islam untuk menentukan waktu-waktu penting seperti Ramadan.
Penggunaan kalender lunar dalam konteks keagamaan sangat penting, karena bulan-bulan dalam sistem ini lebih pendek dibandingkan dengan kalender matahari, sehingga menyebabkan pergeseran waktu perayaan setiap tahun.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perdebatan Selebritas di DPR dan Tantangan Akuntabilitas
Kalender Matahari: Dasar dan Penggunaan
Berbeda dengan kalender lunar, kalender matahari menghitung waktu berdasarkan perputaran bumi mengelilingi matahari. Satu tahun dalam sistem ini biasanya terdiri dari 365 hari dengan pembagian bulan yang lebih stabil.
Kalender matahari banyak diterapkan secara global, termasuk di Indonesia, yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti perayaan Tahun Baru pada 1 Januari.
Karena perhitungan waktu dalam kalender matahari bersifat lebih konsisten, perayaan penting seperti Natal dapat dipastikan jatuh pada tanggal yang sama setiap tahun.
Dampak Perbedaan Kalender Terhadap Penentuan Ramadan
Penggunaan kalender lunar membawa dampak signifikan bagi umat Islam dalam menentukan waktu Ramadan. Dengan siklus tahunan yang bergerak maju, Ramadan bisa terjadi pada berbagai musim setiap tahunnya.
Sebagai contoh, pada tahun 2023, waktu Ramadan jatuh pada bulan Maret hingga April, sedangkan di tahun-tahun mendatang, waktu tersebut bisa bergeser ke musim panas atau bahkan musim dingin.
Pergeseran waktu ini memberikan pengalaman tersendiri bagi umat Islam, yang kadang-kadang berpuasa lebih lama atau lebih pendek tergantung pada waktu terbenam dan terbitnya matahari.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: